Sabtu, 09 April 2016

Ciri Khas Kota Jepara

Ukiran Sebagai Identitas Kota Jepara ~ Ciri khas dari Jepara adalah ukiran, makanya tidak salah jika disebut kota ukir. Ukiran jepara sudah sangat terkenal, tidak saja di dalam negri tapi juga hingga ke manca negara. Tentunya ini menjadi kebanggan semua masyarakat Jepara.

ukiran relief jepara
ukiran jepara

Kini wisatawan yang liburan di kota jepara, bisa melihat sentra ukir jepara. Sebab pemerintah jepara telah berupaya mengenalkan hasil kerajinan khas jepara ke pasar global. Sentra ukir relief di senenan, dan sentra kerajina patung di mulyo harjo, adalah bukti keseriusan Pemda Jepara mengenalkan karya-karya dari warga masyarakat ke dunia.

Selain ukiran relief dan patung, Jepara juga memiliki sentra industri yang lain. Seperti:
* Industri Mebel Ukir Jepara
* Kerajinan Patung & Ukiran
* Kerajinan Relief
* Mebel & Kerajinan Rotan
* Tenun Ikat Troso (sarung, sprei, korden, bahan baju terbuat deri sutra dan katun)
* Kerajinan Monel
* Industri Pariwisata (Taman Nasional Karimunjawa)

Industri Mebel dan Kerajinan merupakan industri andalan dari kabupaten Jepara. Industri tersebut telah menjadi tulang punggung perekonomian Jepara sejak lama. Selain itu pariwisata Jepara memiliki banyak obyek menarik yang dapat dikembangkan agar bisa lebih baik lagi.

Jumat, 08 April 2016

Sejarah Kerajaan Kalingga Di Jepara

Sejarah Kerajaan Kalingga Jepara ~ Menurut cerita, Kalingga adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jepara, Jawa Tengah. Pusat kerajaan ini belum jelas, namun diperkirakan berada di daerah utara wilayah Kabupaten Jepara. Kerajaan Kalingga telah ada pada abad ke-6 Masehi dan keberadaannya diketahui dari berbagai sumber negri Tiongkok. Yang paling terkenal Kerajaan ini dipimpin oleh seorang ratu yang terkenal sangat adil, Ratu Shima.

candi peninggalan kerajaan kalingga
candi peninggalan kerajaan kalingga

Sejarah kerajaan Kalingga merupakan sebuah kerajaan dengan gaya India. Tidak banyak yang dapat diketahui dari kerajaan ini karena sumber sejarah yang ada juga hampir nihil dan mayoritas catatan tentang sejarah kerajaan Kalingga didapat dari kisah-kisah Tiongkok. Pemimpinnya yaitu Ratu Shima juga dikenal karena peraturannya yang kejam dimana siapapun yang tertangkap basah mencuri akan dipotong tangannya.

Awal Mula Berdirinya Kerajaan Kalingga

Awal Berdirinya Kerajaan Kalingga diperkirakan dimulai pada abad ke-6 hingga abad ke-7. Nama Kalingga sendiri berasal dari kerajaan India kuno yang bernama Kaling, mengidekan bahwa ada tautan antara India dan Indonesia. Bukan hanya lokasi pasti ibu kota dari daerah ini saja yang tidak diketahui, tapi juga catatan sejarah dari periode ini amatlah langka. Salah satu tempat yang dicurigai menjadi lokasi ibu kota dari kerajaan ini ialah Pekalongan dan Jepara. Jepara dicurigai karena adanya kabupaten Keling di pantai utara Jepara, sementara Pekalongan dicurigai karena masa lalunya pada saat awal dibangunnya kerajaan ini ialah sebuah pelabuhan kuno. Beberapa orang juga mempunyai ide bahwa Pekalongan merupakan nama yang telah berubah dari Pe-Kaling-an.

Sejarah Kerajaan Kalingga - Kerajaan Hindu-Budha Pertama di Jawa Tengah

Pada tahun 674, kerajaan Kalingga dipimpin oleh Ratu Shima yang terkenal akan peraturan kejamnya terhadap pencurian, dimana hal tersebut memaksa orang-orang Kalingga menjadi jujur dan selalu memihak pada kebenaran. Menurut cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, pada suatu hari seorang raja dari negara yang asing datang dan meletakkan sebuah kantung yang terisi dengan emas pada persimpangan jalan di Kalingga untuk menguji kejujuran dan kebenaran dari orang-orang Kalingga yang terkenal. Dalam sejarahnya tercatat bahwa tidak ada yang berani menyentuh kantung emas yang bukan milik mereka, paling tidak selama tiga tahun hingga akhirnya anak dari Shima, sang putra mahkota secara tidak sengaja menyentuh kantung tersebut dengan kakinya. Mendengar hal tersebut, Shima segera menjatuhkan hukuman mati kepada anaknya sendiri. Mendengar hukuman yang dijatuhkan oleh Shima, beberapa orang memohon agar Shima hanya memotong kakinya karena kakinya lah yang bersalah. Dalam beberapa cerita, orang-orang tadi bahkan meminta Shima hanya memotong jari dari anaknya.

Dalam salah satu kejadian pada sejarah kerajaan Kalingga, terdapat sebuah titik balik dimana kerajaan ini terislamkan. Pada tahun 651, Ustman bin Affan mengirimkan beberapa utusan menuju Tiongkok sambil mengemban misi untuk memperkenalkan Islam kepada daerah yang asing tersebut. Selain ke Tiongkok, Ustman juga mengirim beberapa orang utusannya menuju Jepara yang dulu bernama Kalingga. Kedatangan utusan yang terjadi pada masa setelah Ratu Shima turun dan digantikan oleh Jay Shima ini menyebabkan sang raja memeluk agama Islam dan juga diikuti jejaknya oleh beberapa bangsawan Jawa yang mulai meninggalkan agama asli mereka dan menganut Islam.

Seperti kebanyakan kerajaan lainnya di Indonesia, kerajaan Kalingga juga mengalami ketertinggalan saat kerajaan tersebut runtuh. Dari seluruh peninggalan yang berhasil ditemukan adalah 2 candi bernama candi Angin dan candi Bubrah. Candi Angin dan Candi Bubrah merupakan dua candi yang ditemukan di Keling, tepatnya di desa Tempur. Candi Angin mendapatkan namanya karena memiliki letak yang tinggi dan berumur lebih tua dari Candi Borobudur. Candi Bubrah, di lain sisi, merupakan sebuah candi yang baru setengah jadi, tapi umurnya sama dengan candi Angin.

Kamis, 07 April 2016

Asal Usul Kota Jepara

Asal Mula Kota Jepara ~ Asal kata Jepara berasal dari 2 kata yaitu Ujung dan Para, Ujung dan Mara, atau Jumpa dan Para. Lalu lama kelamaan berubah penyebutan menjadi kata Jepara, yang berarti sebuah tempat pemukiman para pedagang yang berniaga (berdagang) ke berbagai penjuru daerah.

peta wisata jepara
peta wisata jepara

Menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang (618-906 M)” mencatat bahwa pada tahun 674 M, ada seorang musafir Tionghoa bernama I-Tsing pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga. Negeri itu juga disebut Jawa atau Japa dan diyakini berlokasi di daerah Keling, di kawasan timur Jepara. Kerajaan Kalingga dipimpin oleh seorang ratu (pemimpin wanita) bernama Ratu Shima. Ratu ini terkenal akan sifatnya yang sangat tegas.

Sejarah Kota Jepara

Menurut seorang penulis Portugis bernama Tome Pires dalam bukunya “Suma Oriental”, Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) sebagai bandar perdagangan yang kecil yang baru dihuni oleh 90-100 orang dan dipimpin oleh Aryo Timur dan berada dibawah pemerintahan Demak. Kemudian Aryo Timur digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus (1507-1521). Pati Unus mencoba untuk membangun Jepara menjadi kota niaga.

Pati Unus dikenal sangat gigih melawan penjajahan Portugis di Malaka yang menjadi mata rantai perdagangan nusantara. Setelah Pati Unus wafat digantikan oleh ipar Faletehan /Fatahillah yang berkuasa (1521-1536). Kemudian pada tahun 1536 oleh penguasa Demak yaitu Sultan Trenggono, Jepara diserahkan kepada anak dan menantunya yaitu Ratu Retno Kencono dan Pangeran Hadiri suami. Namun setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam Ekspedisi Militer di Panarukan Jawa Timur pada tahun 1546, timbulnya geger perebutan tahta kerajaan Demak yang berakhir dengan tewasnya Pangeran Hadiri oleh Aryo Penangsang pada tahun 1549.

Kematian orang-orang yang dikasihi membuat Ratu Retno Kencono sangat berduka dan meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa di bukit Danaraja. Setelah terbunuhnya Aryo Penangsang oleh Sutowijoyo, Ratu Retno Kencono bersedia turun dari pertapaan dan dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar NIMAS RATU KALINYAMAT. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat (1549-1579), Jepara berkembang pesat menjadi Bandar Niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani eksport import. Disamping itu juga menjadi Pangkalan Angkatan Laut yang telah dirintis sejak masa Kerajaan Demak.

Sebagai seorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar Niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Portugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. Adalah tidak berlebihan jika orang Portugis saat itu menyebut sang Ratu sebagai “RAINHA DE JEPARA”SENORA DE RICA”, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya.

Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hamper 40 buah kapal yang berisikan lebih kurang 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat Patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di Dunia.

Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di Malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengiriman armada militer kedua ini di pimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “QUILIMO”.

Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari Penjajahan Portugis di abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Portugis, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang di sebut sebagai Makam Tentara Jawa. Selain itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir Patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.

Menurut catatan sejarah Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya Pangeran Hadiri. Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktikan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan mashur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan Candra Sengkala TRUS KARYA TATANING BUMI atau terus bekerja keras membangun daerah.

Selasa, 05 April 2016

Tradisi Perang Obor Di Jepara

Perang Obor Di Desa Tegal Sambi Jepara ~ Merupakan sebuah upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Atau lebih tepatnya di desa tegal sambi kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara. Upacara Perang Obor adalah acara yang tiada duanya yang mungkin tidak saja di Jawa Tengah, tapi mungkin juga di seluruh Indonesia.

perang obor tegal sambi jepara
upacara perang obor

Obor yang dipakai pada upacara tradisional ini adalah berupa gulungan atau bendelan 2 buah atau 3 (tiga) pelepah kelapa yang sudah kering, lalu bagian dalamnya diisi dengan daun pisang yang sudah kering (jawa : Klaras ). Obor yang telah siap dinyalakan, akan digunakan bersama-sama untuk dijadikan sebagai alat saling menyerang lawan. Dalam kegiatan ini sering terjadi benturan atau singgungan sehingga akan mengakibatkan obor dapat mengeluarkan pijaran–pijaran api yang besar. Sehingga akan sangat indah terlihat pada kegelapan di malam hari.

Upacara Perang Obor diadakan setiap 1 tahun sekali, yaitu pada tiap hari Senin Pahing (malam Selasa Pon) di bulan Dzullijah (jawa: Besar). Upacara ini diadakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa tegal sambi kecamatan Tahunan terhadap peristiwa atau kejadian pada masa lampau, dan dijadikan budaya yang sampai sekarang dilestarikan oleh mayarkat setempat.

Sejarah Upacara Perang Obor

Kenapa masyarakat menyebutnya dengan istilah Perang Obor, ini adalah cerita singkatnya. Konon ceritanya dimulai pada abad XVI Masehi. Di salah satu desa di jepara, yaitu desa tegalsambi, ada seorang petani yang sangat kaya raya yang bernama Mbah Kyai Babadan. Beliau mempunyai banyak binatang piaraan terutama binatang kerbau dan sapi. Untuk mengembalakannya sendiri jelas tidak mungkin, sehingga beliau mencari dan mendapatkan pengembala dengan nama KI GEMBLONG.

Ki Gomblong ini sangat tekun dalam memelihara hewan-hewan piaraan Mbah Kiai Babadan. Setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikanya di sungai, sehingga binatang peliharaannya tersebut tampak gemuk dan juga sehat. Tentu saja sang pemilik, yakni kyai babadan merasa senang dan memuji Ki Gemblong atas ketekunan dan kepatuhannya dalam memelihara binatang tersebut.

Tapi akhirnya sebuah masalah pun datang. Konon suatu ketika, Ki Gemblong menggembala di tepi sungai kembangan sambil asyik menyaksikan banyak ikan dan udang yang ada di sungai tersebut, dan tanpa menyianyiakan waktu ia langsung menangkap ikan dan udang tersebut yang hasil tangkapannya lalu di bakar dan dimakan dikandang. Setelah kejadian ini hampir setiap hari Ki Gemblong selalu menangkap ikan dan udang tersebut, sehingga ia lupa akan tugas / kewajibannya sebagai penggembala. Dan setelah semakin lama, akhirnya kerbau dan sapinya menjadi kurus dan akhirnya jatuh sakit bahkan mulai ada yang mati. Keadaan ini menyebabkan Kyai Babadan menjadi bingung dan risau, sehingga berusaha mengobati dengan jamu dan apa saja demi kesembuhan binatang - binatang piaraannya. Tapi keadaan itu tidak juga membaik, dan hewan-hewan itu tetap tidak sembuh-sembuh juga.

Akhirnya Mbah Kyai Babadan mengetahui penyebab mengapa binatang piaraannya menjadi kurus, jatuh sakit, dan ada yang mati. Hal itu tidak lain dikarenakan Ki Gemblong tidak lagi mau mengurus hewan-hewan tersebut namun lebih asyik menangkap ikan dan udang untuk dibakar dan dimakannya. Melihat hal semacam itu Kyai Babadan marah besar, disaat ditemui Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan hasil tangkapannya. Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan Ki Gemblong tidak tinggal diam, dengan mengambil sebuah obor yang sama untuk menghadapi Kyai Babadan sehingga terjadilah “ Perang Obor “. Perang tersebut membuat apinya berserakan kemana mana dan sempat membakar tumpukan jerami yang terdapat disebelah kandang. Kobaran api tersebut mengakibatkan sapi dan kerbau yang berada di kandang lari tunggang langgang dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang tersebut mampu berdiri dengan tegak sambil memakan rumput di ladang.

Upacara Perang Obor Sebagai Tujuan Wisata

Kejadian yang tidak diduga dan sangat dramatis tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat desa Tegal Sambi sebagai suatu hal yang penuh mukjizat, bahwa dengan adanya perang obor akan membuat segala jenis penyakit bisa sembuh. Pada masa sekarang upacara tradisional Perang Obor dipergunakan untuk sarana Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan HidayahNya. Dan upacara tersebut mampu menyedot banyak sekali warga sekitar yang penasaran melihatnya, sehingga pantas dijadikan sebagai tujuan wisata di jepara.