Kamis, 23 April 2015

LIBURAN BOGOR : MURAH MERIAH KE KEBUN RAYA BOGOR


 
Sebelumnya kita cari tahu dulu yuk sejarah Kebun Raya Bogor seperti apa,

Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida' (hutan buatan atau taman buatan) yang paling tidak telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi, 1474-1513) dari Kerajaan Sunda, sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten, hingga Gubernur Jenderal van der Capellen membangun rumah peristirahatan di salah satu sudutnya pada pertengahan abad ke-18.
 Pada awal 1800-an Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles, yang mendiami Istana Bogor dan memiliki minat besar dalam botani, tertarik mengembangkan halaman Istana Bogor menjadi sebuah kebun yang cantik. Dengan bantuan para ahli botani, W. Kent, yang ikut membangun Kew Garden di London, Raffles menyulap halaman istana menjadi taman bergaya Inggris klasik. Inilah awal mula Kebun Raya Bogor dalam bentuknya sekarang.

Pada tahun 1814 Olivia Raffles (istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles) meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan di Batavia. Sebagai pengabadian, monumen untuknya didirikan di Kebun Raya Bogor.
Ide pendirian Kebun Raya bermula dari seorang ahli biologi yaitu Abner yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen. Dalam surat itu terungkap keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembangan kebun-kebun yang lain.
Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt adalah seseorang berkebangsaan Jerman yang berpindah ke Belanda dan menjadi ilmuwan botani dan kimia. Ia lalu diangkat menjadi menteri bidang pertanian, seni, dan ilmu pengetahuan di Jawa dan sekitarnya. Ia tertarik menyelidiki berbagai tanaman yang digunakan untuk pengobatan. Ia memutuskan untuk mengumpulkan semua tanaman ini di sebuah kebun botani di Kota Bogor, yang saat itu disebut Buitenzorg (dari bahasa Belanda yang berarti "tidak perlu khawatir"). Reinwardt juga menjadi perintis di bidang pembuatan herbarium. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pendiri Herbarium Bogoriense.
Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama ’s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris).
Sekitar 47 hektaree tanah di sekitar Istana Bogor dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Reinwardt menjadi pengarah pertamanya dari 1817 sampai 1822. Kesempatan ini digunakannya untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara. Dengan segera Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian dan hortikultura di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut.
Pada tahun 1822 Reinwardt kembali ke Belanda dan digantikan oleh Dr. Carl Ludwig Blume yang melakukan inventarisasi tanaman koleksi yang tumbuh di kebun. Ia juga menyusun katalog kebun yang pertama berhasil dicatat sebanyak 912 jenis (spesies) tanaman. Pelaksanaan pembangunan kebun ini pernah terhenti karena kekurangan dana tetapi kemudian dirintis lagi oleh Johannes Elias Teysmann (1831), seorang ahli kebun istana Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Dengan dibantu oleh Justus Karl Hasskarl, ia melakukan pengaturan penanaman tanaman koleksi dengan mengelompokkan menurut suku (familia).
Teysmann kemudian digantikan oleh Dr. Rudolph Herman Christiaan Carel Scheffer pada tahun 1867 menjadi direktur, dan dilanjutkan kemudian oleh Prof. Dr. Melchior Treub.
Pendirian Kebun Raya Bogor bisa dikatakan mengawali perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dari sini lahir beberapa institusi ilmu pengetahuan lain, seperti Bibliotheca Bogoriensis (1842), Herbarium Bogoriense (1844), Kebun Raya Cibodas (1860), Laboratorium Treub (1884), dan Museum dan Laboratorium Zoologi (1894).
Pada tanggal 30 Mei 1868 Kebun Raya Bogor secara resmi terpisah pengurusannya dengan halaman Istana Bogor.
Pada mulanya kebun ini hanya akan digunakan sebagai kebun percobaan bagi tanaman perkebunan yang akan diperkenalkan ke Hindia-Belanda (kini Indonesia). Namun pada perkembangannya juga digunakan sebagai wadah penelitian ilmuwan pada zaman itu (1880 - 1905).
Kebun Raya Bogor selalu mengalami perkembangan yang berarti di bawah kepemimpinan Dr. Carl Ludwig Blume (1822), JE. Teijsmann dan Dr. Hasskarl (zaman Gubernur Jenderal Van den Bosch), J. E. Teijsmann dan Simon Binnendijk, Dr. R.H.C.C. Scheffer (1867), Prof. Dr. Melchior Treub (1881), Dr. Jacob Christiaan Koningsberger (1904), Van den Hornett (1904), dan Prof. Ir. Koestono Setijowirjo (1949), yang merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat suatu pimpin lembaga penelitian yang bertaraf internasional.
Pada saat kepemimpinan tokoh-tokoh itu telah dilakukan kegiatan pembuatan katalog mengenai Kebun Raya Bogor, pencatatan lengkap tentang koleksi tumbuh-tumbuhan Cryptogamae, 25 spesies Gymnospermae, 51 spesies Monocotyledonae dan 2200 spesies Dicotyledonae, usaha pengenalan tanaman ekonomi penting di Indonesia, pengumpulan tanam-tanaman yang berguna bagi Indonesia (43 jenis, di antaranya vanili, kelapa sawit, kina, getah perca, tebu, ubi kayu, jagung dari Amerika, kayu besi dari Palembang dan Kalimantan), dan mengembangkan kelembagaan internal di Kebun Raya yaitu:
Kebun Raya Bogor sepanjang perjalanan sejarahnya mempunyai berbagai nama dan julukan, seperti
  • ’s Lands Plantentuin
  • Syokubutzuer (zaman Pendudukan Jepang)
  • Botanical Garden of Buitenzorg
  • Botanical Garden of Indonesia
  • Kebun Gede
  • Kebun Jodoh
Kebun Raya Bogor juga sangat cocok untuk Wisata Pendidikan, Tempat Wisata Terindah - Kebun Raya Bogor memiliki luas lahan sekitar 87 ha dengan memiliki koleksi berupa tanaman sekitar 15.000 jenis. Kompleks Kebun Raya Bogor selalu dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun dunia. Sebagian pengunjung hanya sekeda ringin menyaksikan berbagai koleksi di Kebun Raya Bogor, sebagian lainnya untuk tujuan penelitian dan akademis. Didalam kompleks Kebun Raya Bogor terdapat beberapa museum yang berhubungan dengan pendidikan, seperti Herbarium Bogoriense, Museum Zoologi Bogor, dan lain-lain. Oleh sebab itu Kebun Raya Bogor banyak dikujungi oleh rombongandari sekolah yang ingin study tour karena memang sangat bagus untuk mengenalkan pada para siswa tentang tumbuh-tumbuhan yang sebagian sudah sangat langka.

Jembatan (putus) cinta di Kebun Raya Bogor, fakta atau mitos? Kebun Raya Bogor juga mempunyai mitos seperti tempat-tempat wisata yang lain yang sudah di kenal oleh masyarakat setempat namun tidak banyak diketahui oleh para wisatawan. Terlebih jika mengabadikan momen cinta di Jembatan Merah. Pasalnya banyak cerita, di mana pasangan kekasih akhirnya berpisah setelah melalui jembatan bercat merah yang berada di atas Kali Ciliwung itu.

Percaya atau tidak banyak yang meyakini jika pacaran di Kebun Raya ini akan berakhir kandas. Jembatan gantung merah di Kebun Raya disebut sebagai penyebabnya. Mitos keberadaan jembatan gantung yang tak jauh dari taman garuda ini hingga kini masih menyimpan banyak tanda tanya.

"Banyak yang bilang begitu, kalau pacaran di sini biasanya hubungannya gak bakal langgeng. Konon katanya karena jembatan gantung itu, dan tidak hanya di sini, di beberapa objek wisata di tempat lain yang ada jembatan gantung mitosnya juga seperti itu," sambung Dadan, seorang pegawai di Kebun Raya Bogor.

Dadan yang sudah bekerja hampir 15 tahun di kebun seluas 87 Ha menyebut bahwa mitos itu sudah terlanjur mengakar kuat di masyarakat khususnya kota hujan ini. namun ada percaya ada juga yang tidak.

"Tapi itu balik lagi ke diri kita masing-masing. Mungkin kalau bener itu hanya kebetulan saja, dan saya kira masih banyak yang langgeng walaupun pernah pacaran di sini," terangnya. Jembatan gantung ini memang tergolong istimewa. Penahan utama jembatan ini adalah kabel besi fleksibel yang terbentang antara satu sisi dengan sisi yang lain. Dengan model gantung tersebut, jembatan bisa merentang dengan jarak yang cukup jauh tanpa harus membuat pilar-pilar kuat yang menyangganya di tengah-tengah. Salah satu contoh gantung yang paling terkenal adalah The Golden Gate of San Fransisco.

Namun ada mitos lainnya yang bekebalikan dengan Jembatan Merah yaitu Pohon Jodoh,



Ssst, Ini Mitos Pohon Jodoh di Kebun Raya Bogor

Di dekat jembatan merah tersebut terdapat sepasang pohon raksasa dengan bangku di tengahnya. Sepasang pohon ini lekat dengan mitos cinta sehingga disebut 'pohon jodoh'.

"Ada 2 pohon di sini, umurnya sama sekitar 140 tahun. Yang sebelah kiri konon pohon pria, yang sebelah kanan pohon wanita," tutur salah satu pemandu Kebun Raya Bogor.

Pohon pria, lanjutnya, adalah Meranti. Kayunya lebih hitam dan lebih kuat dibanding pohon wanita yakni Beringin Putih.

"Mitosnya, konon dulu ada yang bertemu di sini kemudian mereka kenalan, dan jadian, dan seterusnya. Dan makin banyak orang yang menemukan jodoh di sini," tambah sang pemandu.

Mitos ini juga rupanya sering dikaitkan dengan makam Ratu Galuh yang terletak di dekat pohon jodoh. Komplek makam istri Prabu Siliwangi itu konon punya kekuatan untuk menarik jodoh.

Tak heran, mitos pohon jodoh ini mengundang banyak rasa penasaran. Namun, kembali lagi ke kepercayaan masing-masing. Banyak juga turis yang percaya kekuatan mitos Jembatan Putus Cinta.

Kalian berani nggak ngajak pasangan kalian liburan kesini,,,,heehehee

Hasil foto-foto kunjunan saya saat liburan ke Kebun Raya Bogor:

bersama keluarga kecil kakak saya
saat duduk diantara pohon jodoh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar